Surat Kepada Jokowi

Surat Kepada Jokowi
Bapak Jokowi yang terhormat,
Perkenankan saya mengingatkan eksistensi sekelompak rakyat, mungkin jika bapak lupa, mereka adalah kumpulan tenaga Non PNS dari seluruh jabatan, dan instansi pemerintah di seluruh Indonesia. Mereka berasal dari berbagai profesi yang melayani rakyat tanpa pamrih, kendati keringat mereka jauh lebih banyak tertumpah ketimbang income yang diterima. Tentu bukan itu persoalannya, Bapak. Karena sungguh tak elok jika perhitungan dengan negara. Saya, hanya mempertanyakan tentang keadilan, kesetaraan, dan tentunya apresiasi dari negara atas keringat mereka.

Bapak presiden,
Izinkan saya sedikit bercerita tentang  mereka, sedikit saja. Mungkin bagi Bapak ini terlalu kecil dibandingkan kesibukan Bapak dalam mengurus negeri yang ruwet ini. Tapi tak apalah saya ulas sedikit. Di antara mereka ada yang mengabdi dan mati dalam pengabdian kepada negara. Ia tidak mewariskan apa kepada anak dan istri yang ia tinggalkan.  Ia [hanya] mewariskan manfaat pada masyarakat. Ada lagi yang memasuki usia pensiun, tapi harus menyambi menjadi pedagang asongan, demi menghidupi anak-anaknya. Ada banyak cerita di balik kisah pengabdian Tenaga Non PNS di pelosok negeri ini. Namun, tentu tak elok jika saya terlalu mengumbar rasa sakit yang mereka alami. Sebaiknya saya sedikit berujar tentang logika keadilan versus logika birokratis.

Bapak presiden,
Tahun 2017 ini adalah musim penuh harap bagi anak-anak bangsa. Mereka yang baru menetas dan tumbuh. Mereka masih segar, energik, dan tentu optimis. Karenanya, Menteri Aparatur membuka peluang CPNS bagi jalur umum, putra-putri Papua, dan jalur prestasi. Ini sangat membanggakan. Gebrakan ini luar biasa. Menteri bapak sungguh visioner, semua demi pelayanan prima dan kinerja, yang tentu basisnya sangat kuantitatif. Salahkah? tentu tidak. Hanya saja, ada yang terlupakan, bapak. Yakni soal pegawai negara (Non PNS) yang eksistensi mereka sungguh kecil di mata negara, tapi bermakna besar bagi Rakyat. Mereka adalah Abdi Negara Non PNS di seluruh instansi—guru; dosen; perawat; penyuluh; bidan; pamong praja dan honorer lainnya. Tahunan mereka menunggu sebuah kepastian, bagai musafir yang tersesat di padang pasir, berharap setetes air. Tapi dengan musim rekrutmen CPNS ini mereka hanya mampu menegak ludah sendiri. Jika sudah seperti itu, mereka mungkin hanya bisa tenggelam dalam do’a pada setiap sujud mereka—“Jika di dunia ini begitu sempit terasa, begitu jauh dari rasa adil, maka semoga Tuhan memberikan keluasan di akhirat.” Ini adalah do’a orang lemah dan terlemahkan, Bapak presiden. Hanya Bapak yang dapat membuat mereka kuat, dan kembali tegak berdiri menjadi abdi negara, melayani rakyat.

Bapak Jokowi,
Mari kita layangkan pandangan mata lebih empiris, tapi dalam makna yang lebih kualitatif, bukan positivistik. Sebab, berkali-kali aparatur negara berdalih, bahkan terkesan enggan menanggapi aspirasi Tenaga Non PNS, agar segera mengamini Revisi UU ASN No. 2 Tahun 2014, agar dapat mengakomodir harapan dan keinganan mereka untuk di-Pegawai Negeri Sipil-kan. Dalih aparatur, mungkin [juga] tenaga ahli yang merancang reformasi birokrasi, sangat masuk akal tapi [kurang] radikal dan humanis, yaitu: “..mereka (Tenaga Non PNS) jika diangkat jadi PNS, maka kinerjanya [diragukan adanya]. Hal itu kontraproduktif dengan cita-cita Menpan RB yang tengah mendorong budaya kerja dan mewujudkan Nawacita dalam pelayanan publik.” Pernyataan [dapat] saja benar, tapi kebenaran tidak boleh melampaui bahkan mengabaikan rasa kemanusiaan. Bukan begitu, Bapak?
            Mengapa saya katakan ada pengabaian rasa kemanusiaan disini? Mengukurnya, sederhana: secara kualitatif, silahkan tanyakan secara mendalam bagaimana respon psikologi para Tenaga Non PNS ketika mereka dihadapkan dengan rekrutmen ini—perasaan terabaikan; dikelas-duakan; bahkan terpinggirkan adalah perasaan kolektif yang dapat ditemukan, dan dipahami secara kualitatif. Perkara lainnya adalah soal logika linier yang kerap diaminkan dan digunakan dalam melihat persoalan Tenaga Non PNS secara hitam putih. Banyak yang meragukan kinerja Non PNS, atau menilai mereka sebagai orang yang gagal berkompetisi. Hal ini dapat ditapik, dengan beberapa alasan seperti soal proporsionalitas test untuk CPNS, dan ketepatan materi psikologis dalam mengukur kepribadiaan. Sebab, hal itu hanya soal retorika sainstik, dan ada perdebatan di dalamnya. Karenanya tak elok, hanya mengkultuskan satu nalar. Dikuatkan oleh riset yang dilakukan oleh Derick Amstrong (2009), ia menyimpulkan “bahwa kemampuan akademik bukanlah hal yang linear dengan kinerja.” Lantas apa yang dominan? Secara empiris ada faktor lain seperti pengalaman, dan berpegang teguh pada pengabdian tanpa pamrih. Inilah kunci penting kinerja. Bapak, “apakah tahunan mengabdi dan rela hidup tanpa tunjangan semewah PNS atau karyawan profesional di perusahaan negara; ataupun swasta, dan tidak ada keluhan ketika mereka melayani masyarakat. Apakah itu tidak cukup menyakinkan bapak bahwa Tenaga Non PNS, lebih dari layak untuk menjadi abdi negara yang tetap.” Jika mereka mengeluh hanya pada negara, hal itu wajar adanya. Tapi mereka tidak pernah mengeluh pada masyarakat.

Bapak presiden,
Sudah banyak presiden silih-berganti di Republik ini, namun mereka—Tenaga Non PNS, masih terabaikan, dan keinginan mereka masih belum didengarkan. Inilah kesempatan terbaik bagi Bapak Presiden untuk membuktikan bahwa Bapak berdiri dengan wong-cilik, dan lebih mengedepankan rasa; kemanusiaan; dan rasa asih dalam melihat persoalan Tenaga Non PNS ini, ketimbang harus mendengarkan nalar-nalar birokratis-pseudo saintik. Lihat-lah mereka seperti tatapan Bapak pada Anak-Anaknya, tatapan penuh rasa asih dan asuh. Tataplah se-elok-elok tatapan. Mereka hanya bisa memberi tapi sedikit meminta. Tatapan penuh rasa haru ketika mereka tak mampu mendiamkan tangis anak-anak mereka, karena istri mereka tak mampu menyapih anak-anak mereka, karena kurangnya asupan. Berilah kepastian status kepada mereka, meskipun esok hari mereka harus bertaruh nyawa dan wafat. Setidaknya mereka dapat tersenyum di akhir hayat, bahwa cita-cita mereka sudah terpenuhi menjadi abdi negara yang sesungguhnya, meski hanya dalam hitungan hari atau bahkan jam saja.
            Demikianlah surat ini saya tulis, hanya untuk berujar menyampaikan nan terbetik di hati dan apa yang ter-amati. Semoga surat ini sempat jua dibaca oleh Bapak, meskipun kecil kemungkinan. Karena ada hal besar yang lebih penting Bapak urus, ketimbang hal remeh temeh dan soal nasib segelintir rakyat yang lelah ini. Semoga bapak selalu sehat, dan dianugerahi kekuatan dalam mengayomi rakyat.[]
Curup, 7 September 2017



*Muhammad Sholihin, Divisi Imformasi dan Keanggotan Ikatan Dosen Tetap Non PNS Republik Indonesia.

Comments

Popular posts from this blog

ORGANISASI PENDIDIKAN : JENIS DAN STRATEGI PENGUATAN

DAULAH ABASYYIAH (AL MA"MUN & HARUN AL RASYID)