REVIEW : MUQSID GHAZALI (ARGUMEN PLURALISME DALAM AL-QUR’AN ) TOLERANSI DAN KEBERAGAMAAN

Toleransi merupakan salah satu bagian inti dari ajaran Islam, yang  dalam bahasa Arab lebih dikenal dengan sebutan tasamuh. Toleransi ini harus dikembangkan dan diaktualisasikan dalam ruang lingkup masyarakat guna merajut tali persaudaraan antar sesama manusia yang berlainan agama, sebagaimana misi Nabi Muhammad dilahirkan didunia yaitu rahmatal lil ‘alamin.
Dalam Islam toleransi sangat diperhatikan, karena ia menyangkut masalah social keberagamaan. Bahkan didalam Al-Qur’an QS Al An’am ayat 108 juga dijelaskan terkait, bagaimana seharusnya sikap kita terhadap orang lain yang berbeda agama  yaitu antara lain dengan membiarkan orang lain tetap kepada keyakinannya dan tidak mencaci maki tuhan-tuhan yang menjadi sesembahan mereka.
Dengan kata lain, pemaksaan terhadap agama merupakan suatu tindakan yang tidak sesuai dengan harkat martabat sebagai makhluk merdeka, selain itu juga bukanlah suatu hal yang dianjurkan dalam Islam, hal ini sesuai dengan Firman allah dalam surat Al Baqarah ayat 256, yang disitu dijelaskan tidak boleh ada paksaan dalam agama.
Oleh karena itu, kebebasan beragama dan respek terhadap kepercayaan orang lain bukan hanya penting bagi masyarakat majemuk, tetapi bagi orang Islam, hal tersebut merupakan ajaran Al-Qur’an. Membela kebebasan beragama dan menghormati kepercayaan orang lain merupakan bagian dari kemusliman. Keharusan membela kebebasan beragama tersebut di antaranya, dalam Al-Qur’an disimpulkan dalam sikap mempertahankan rumah-rumah peribadatan, seperti biara-biara, gereja-gereja, sinagog-sinagog, dan masjid-masjid.
Agama merupakan sesuatu yang berangkat dari keimanan dengan didasari akan kesadaran dan bukan atas suatu tekanan. Jadi agama adalah pilihan seseorang yang dimantabkan (qalb) dengan pertimbangan-pertimbangan pemikiran. Ayat di atas merupakan teks fondasi atas dasar penyikapan terhadap jaminan kebebasan untuk memeluk tiap-tiap agama.
Jelasnya, dalam Islam keberagamaan merupakan anugerah yang telah ditetapkan oleh Allah S.W.T, seandainya Allah menghendaki, maka jadilah umat yang satu. Namun nyatanya sebaliknya,Ia memberi keleluasaan terhadap semua makhluknya untuk bertindak sesuai dengan apa yang telah diyakininya. Di sini nabi memiliki peran sebagai seorang yang ditunjuk oleh Allah untuk mengemban tugas sebagai pembawa kabar dan berita guna menunnjukkan jalan yang benar, Sedangkan Allah lah yang menentukan tiap-tiap orang yang diberi hidayah (petunjuk). Dengan konsekuensi pilihannya tersebut, nantinya diakhirat akan dimintai pertanggungjawaban. 
Terlepas dari semua hal di atas, tidaklah mungkin jika masyarakat atau negara berusaha menghilangkan nilai-nilai multicultural yang ada didalamnya dan menjadikan masyrakat atau bahkan negara tersebut menjadi masyarakat homogenitas, yang ada justru pemberontakan-pemberontakan muncul dari golongan yang merasa komunitasnya terancam. Dengan kata lain disinilah letak urgensi dari penanaman sikap toleransi baik dalam wilayah agama, masyarakat, bahkan negara.


Popular posts from this blog

ORGANISASI PENDIDIKAN : JENIS DAN STRATEGI PENGUATAN

DAULAH ABASYYIAH (AL MA"MUN & HARUN AL RASYID)