POLA ORIENTASI DAN TAHAPAN PERKEMBANGAN MORAL
- Get link
- X
- Other Apps
POLA
ORIENTASI DAN TAHAPAN PERKEMBANGAN MORAL
A. Pola Orientasi Moral Anak
Pada usia Taman Kanak-kanak anak
telah memiliki pola moral yang harus dilihat dan dipelajari dalam rangka
pengembangan moralitasnya. Orientasi moral diidentifikasikan dengan moral
position atau ketetapan hati, yaitu sesuatu yang dimiliki seseorang terhadap
suatu nilai moral yang didasari oleh cognitive motivation aspects dan affective
motivation aspects.
Tahapan perkembangan moral
seseorang akan melewati 3 fase, yaitu premoral, conventional dan autonomous.
Anak Taman Kanak-kanak secara teori berada pada fase pertama dan kedua. Oleh
sebab itu, guru diharapkan memperhatikan kedua karakteristik tahapan
perkembangan moral tersebut. Sedangkan menurut Piaget, seorang manusia dalam
perkembangan moralnya melalui tahapan heteronomous dan autonomous. Seorang guru
Taman Kanak-kanak harus memperhatikan tahapan heteronomous karena pada tahapan
ini anak masih sangat labil, mudah terbawa arus, dan mudah terpengaruh. Mereka
sangat membutuhkan bimbingan, proses latihan, serta pembiasaan yang terus
menerus.
Moralitas anak Taman Kanak-kanak
dan perkembangannya dalam tatanan kehidupan dunia mereka dapat dilihat dari
sikap dan cara berhubungan dengan orang lain, cara berpakaian dan
berpenampilan, serta sikap dan kebiasaan makan. Demikian pula, sikap dan
perilaku anak dapat memperlancar hubungannya dengan orang lain. Penanaman moral
kepada anak usia Taman Kanak-kanak dapat dilakukan dengan berbagai cara dan
lebih disarankan untuk menggunakan pendekatan yang bersifat individual,
persuasif, demokratis, keteladanan, informal dan agamis. Beberapa program yang
dapat diterapkan di Taman Kanak-kanak dalam rangka menanamkan dan mengembangkan
perilaku moral anak di antaranya dengan bercerita, bermain peran, bernyanyi,
mengucapkan sajak, dan program pembiasaan lainnya. Pengembangan Kemampuan
Kepribadian/Moral bagi Anak Taman Kanak-kanak.
Perkembangan moral dan etika pada
diri anak Taman Kanak-kanak dapat diarahkan pada pengenalan kehidupan pribadi
anak dalam kaitannya dengan orang lain. Misalnya, mengenalkan dan menghargai
perbedaan lingkungan tempat anak hidup, mengenalkan peran gender dengan orang
lain, serta mengembangkan kesadaran anak akan hak dan tanggung jawabnya. Puncak
yang diharapkan dari tujuan pengembangan moral anak Taman Kanak-kanak adalah
adanya keterampilan afektif anak itu sendiri, yaitu keterampilan utama untuk
merespon orang lain dan pengalaman-pengalaman barunya, serta memunculkan
perbedaan-perbedaan dalam kehidupan teman di sekitarnya. Hal yang bersifat
subtansial tentang pengembangan moral anak usia Taman Kanak-kanak diantaranya
adalah pembentukan karakter, kepribadian, dan perkembangan sosialnya. Guru
Taman Kanak-kanak harus menguasai strategi pengembangan emosional, sosial,
moral dan agama bagi anak Taman Kanak-kanak. Juga, guru Taman Kanak-kanak perlu
untuk senantiasa mengadakan penelitian tentang pengembangan dan inovasi dalam
bidang pendidikan bagi anak usia prasekolah.
B. Tahapan Perkembangan Moral
1. Pengertian
Moral dan Perkembangan Moral
Pengertian Moral menurut Gunarsa adalah
rangkaian nilai tentang berbagai macam perilaku yang harus dipatuhi. Istilah
moral sendiri berasal dari kata mores yang berarti tata cara
dalam kehidupan, adat istiadat atau kebiasaan. Menurut Shaffer adalah
kaidah norma dan pranata yang mengatur perilaku individu dalam hubungannya
dengan masyarakat dan kelompok sosial. Moral ini merupakan standar baik dan
buruk yang ditentukan oleh individu dengan nilai-nilai sosial budaya di mana
individu sebagai anggota sosial. Menurut Rogers adalah aspek
kepribadian yang diperlukan seseorang dalam kaitannya dengan kehidupan sosial
secara harmonis, seimbang dan adil. Perilaku moral ini diperlukan demi
terwujudnya kehidupan yang damai penuh keteraturan, keharmonisan dan
ketertiban. Sementara perubahan psikis menyangkut keseluruhan
karakteristik psikologis individu, seperti perkembangan kognitif, emosi, sosial
dan moral.
Menurut Kohlberg, penilaian
dan perbuatan moral pada intinya bersifat rasional. ia membenarkan
gagasan Jean Piaget yang mengatakan bahwa pada masa remaja
sekitar umur 16 tahun telah mencapai tahap tertinggi dalam proses pertimbangan
moral. Adanya kesejajaran antara perkembangan kognitif dengan perkembangan
moral dapat dilihat pada masa remaja yang mencapai tahap tertinggi dari
perkembangan moral, yang kemudian ditandai dengan kemampuan remaja menerapkan
prinsip keadilan universal pada penilaian moralnya. Kolhberg (dalam
Santrock, 2002:370) menekankan bahwa perkembangan moral didasarkan
terutama pada penalaran moral dan berkembang secara bertahap. Perkembangan
moral (moral development) berkaitan dengan aturan dan konvensi tentang apa yang
seharusnya dilakukan oleh manusia dalam interaksinya dengan orang lain.
Dalam mempelajari aturan-aturan ini
para pakar perkembangan akan menguji tiga bidang yang berbeda yaitu: Bagaimana
anak-anak bernalar atau berpikir tentang aturan-aturan untuk perilaku etis,
Bagaimana anak-anak sesungguhnya berperilaku dalam keadaan bermoral, Bagaimana
anak merasakan hal-hal moral itu. Pendidikan moral adalah suatu program
pendidikan (sekolah dan luar sekolah) yang mengorganisasikan dan
menyederhanakan sumber-sumber moral dan disajikan dengan memperhatikan
pertimbangan psikologis untuk tujuan pendidikan.
2.
Tahap Perkembangan Moral
Kartini
Kartono membagi masa perkembangan dan pertumbuhan anak menjadi 5, yaitu :
a. 0
ā 2 tahun adalah masa bayi
b. 1
ā 5 tahun adalah masa kanak-kanak
c. 6
ā 12 tahun adalah masa anak-anak sekolah dasar
d. 12
ā 14 adalah masa remaja
e. 14
ā 17 tahun adalah masa pubertas awal
Aristoteles
membagi masa perkembangan dan pertumbuhan anakmenjadi 3, yaitu:
a. 0
ā 7 tahun adalah tahap masa anak kecil
b. 7
ā 14 tahun adalah masa anak-anak masa belajar, atau masa sekolah rendah
c. 14
ā 21 tahun adalah masa remaja atau pubertas, masa peralihan dari anak menjadi
dewasa
Menurut
Hurlock dalam bukunya yang berjudul Child Development, perkembangan anak
dibagi menjadi 5 periode, yaitu :
a. Periode
pra lahir yang dimulai dari saat pembuahan sampai lahir. Pada periode ini
terjadi perkembangan fisiologis yang sangat cepat yaitu pertumbuhan seluruh
tubuh secara utuh.
b. Periode
neonatus adalah masa bayi yang baru lahir. Masa ini terhitung mulai 0 sampai
dengan 14 hari. Pada periode ini bayi mengadakan adaptasi terhadap lingkungan
yang sama sekali baru untuk bayi tersebut yaitu lingkungan di luar rahim ibu.
c. Masa
bayi adalah masa bayi berumur 2 minggu sampai 2 tahun. Pada masa ini bayi
belajar mengendalikan ototnya sendiri sampai bayi tersebut mempunyai keinginan
untuk mandiri.
d. Masa
kanak-kanak terdiri dari 2 bagian yaitu masa kanak-kanak dini dan akhir masa
kanak-kanak. Masa kanak-kanak dini adalah masa anak berusia 2 sampai 6 tahun,
masa ini disebut juga masa pra sekolah yaitu masa anak menyesuaikan diri secara
sosial. Akhir masa kanak-kanak adalah anak usia 6 sampai 13 tahun, biasa
disebut sebagai usia sekolah.
e. Masa
puber adalah masa anak berusia 11 sampai 16 tahun. Masa ini termasuk periode
yang tumpang tindih karena merupakan 2 tahun masa kanak-kanak akhir dan 2 tahun
masa awal remaja. Secara fisik tubuh anak pada periode ini berubah menjadi
tubuh orang dewasa.
Menurut Kohlberg (dalam
Ormord, 2000:371). Kohlberg mengemukakan ada tiga tingkat
perkembangan moral, yaitu tingkat prakonvensional, konvensional dan
post-konvensional. Masing-masing tingkat terdiri dari dua tahap, sehingga
keseluruhan ada enam tahapan (stadium) yang berkembang secara bertingkat dengan
urutan yang tetap.
a.
Tingkat
Penalaran Prakonvensional
Pada
penalaran prakonvensional anak tidak memperhatikan internalisasi nilai-nilai
moral-penalaran moral dikendalikan oleh imbalan (hadiah) dan hukuman eksternal.
Pada tingkat ini terdapat dua tahap.
1)
Tahap satu orientasi hukuman dan
ketaatan (punihsment and obedience orientation): tahap penalaran moral
didasarkan atas hukuman. Anak-anak taat karena orang-orang dewasa menuntut
mereka untuk taat.
2)
Tahap dua individualisme dan tujuan
(individualism and purpose): tahap penalaran moral didasarkan atas imbalan
(hadiah) dan kepentingan sendiri. Anak-anak taat bila mereka ingin dan butuh
untuk taat. Apa yang benar adalah apa yang dirasakan baik dan apa yang dianggap
menghasilkan hadiah.
b.
Tingkat
Penalaran Konvensional
Pada
tingkat ini, internalisasi indivdual ialah menengah.Seseorang menaati
standar-standar (internal) tertentu, tetapi mereka tidak menaati
standar-standar orang lain (eksternal), seperti orang tua atau aturan-atuaran
masyarakat.
1)
Norma-norma interpersonal
(interpersonal norms). Seseorang menghargai kebenaran, kepedulian, dan
kesetiaan kepada orang lain sebagai landasan pertimbangan moral. Anak-anak
sering mengadopsi standar-standar moral orang tuanya pada tahap ini, sambil
mengharapkan dihargai oleh orang tuanya sebagai seorang āperempuan yang baikā
atau seorang ālaki-laki yang baik.ā
2)
Moralitas
sistem sosial (social system morality). Pertimbangan-pertimbangan didasarkan
atas pemahaman aturan sosial, hukum-hukum, dan kewajiban.
c.
Tingkat Penalaran
Pascakonvensional
Tingkat
ini ialah tingkat tertinggi dalam teori perkembangan moral kohlberg. Pada
tingkat ini moralitas benar-benar diinternalisasikan dan tidak didasarkan pada
standar-standar orang lain. Seseorang mengenal tindakan-tindakan moral
alternatif, menjajaki pilihan-pilihan, dan kemudian memutuskan berdasarkan
suatu kode moral pribadi.
1)
Hak-hak masyarakat dengan hak-hak
individual (community rights and individual rights). Seseorang memahami bahwa
nilai-nilai dan aturan-aturan adalah bersifat relatif dan bahwa standar dapat
berbeda dari satu orang ke orang lain. Seseorang menyadari bahwa hukum penting
bagi masyarakat, tetapi juga mengetahui bahwa hukum dapat diubah. Seseorang
percaya bahwa beberapa nilai, seperti kebebasan, lebih penting dari pada hukum.
2)
Prinsip-prinsip
etis universal (universal ethical principles). Seseorang telah mengembangan
suatu standar moral yang didasarkan pada hak-hak manusia yang manusia yang
universal. Bila menghadapi konflik antara hukum dan suara hati, seseorang akan
mengikuti suara hati, walaupun keputusan itu mungkin melibatkan resiko pribadi.
3.
Faktor yang Mempengaruhi Perkembangan Moral
a.
Perkembangan
Kognitif Umum
Penalaran
moral yang tinggi yaitu penalaran yang dalam mengenai hukum moral dan
nilai-nilai luhur seperti kesetaraan, keadilan, hak-hak asasi manusia dan
memerlukan refleksi yang mendalam mengenai ide-ide abstrak.Dengan demikian
dalam batas-batas tertentu, perkembangan moral tergantung pada perkembangan
kognitif. (Kohlberg dalam Ormord, 2000:139). Contoh: anak-anak secara
intelektual berbakat umumnya lebih sering berpikir entang isu moral dan bekerja
keras mengatasi ketidakadilan di masyarakat lokan ataupun dunia secara umum
ketimbang teman-teman sebayanya (Silverman dalam Ormord, 200:139). Meski demikian,
perkembangan kognitif tidak menjamin perkembangan moral. Anak yang
memiliki bakat khusus menonjol sering disebut dengan istilah talented
children, sedangkan anak yang memiliki bakat
intelektual menonjol sering disebut dengan istilah gifted children.
b. Penggunaan Rasio dan Rationale
Anak-anak
lebih cenderung memperoleh manfaat dalam perkembangan moral ketika mereka
memikirkan kerugian fisik dan emosional yang ditimbulkan perilaku-perilaku
tertentu terhadap orang lain. Menjelaskan kepada anak-anak alasan
perilaku-perilaku tertentu tidak dapat diterima, dengan focus pada perspektif
orang lain, dikenal sebagai induksi (Hoffman dalam Ormord, 2000:140). Contoh:
induksi berpusat pada korban induksi membantu siswa berfokus pada kesusahan
orang lain dan membantu siswa memahami bahwa mereka sendirilah penyebab
kesesahan-kesusahan tersebut. Penggunaan konduksi secara konsisten dalam
mendisiplinkan anak-anak, terutama ketika disertai hukuman ringan bagi perilaku
yang menyimpang misalnya menegaskan bahwa mereka harus meminta maaf atas
perilaku yang keliru.
c. Isu dan Dilema Moral
Kolhberg dalam teorinya mengenai teori perkembangan moral
menyatakan bahwa disekuilibrium adalah anak-anak berkembang secara moral ketika
mereka menghadapi suatu dilemma moral yang idak dapat ditangani secara memadai
dengan menggunakan tingkat penalaran moralnya saat itu. Dalam upaya membantu
anak-anak yang mengahdapi dilema semacam itu Kulhborg menyarankan agar guru
menawarkan penalaran moral satu tahap di atas tahap yang dimilik anak pada saat
itu. Contoh: bayangkanlah seorang remaja laki-laki yang sangat mementingkan
penerimaan oleh teman-teman sebayanya, dia rela membiarkan temannya menyali
pekerjaan rumahnya. Gurunya mungkin menekankan logika hokum dan keteraturann
dengan menyarankan agar semua siswa seharusnya menyelesaikan pekerjaan rumahnya
tanpa bantuan orang lain karena tugas-tugas pekerjaan rumah dirancang untuk
membantu siswa belajar lebih efektif.
d. Perasaan Diri
Anak-anak
lebih cenderung terlibat dalam perilaku moral ketika mereka berfikir bahwa
mereka sesungguhnya mampu menolong orang lain dengan kata lain ketika mereka
memiliki efikasi diri yang tinggi mengenai kemampuan mereka membuat suatu
perbedaan (Narvaez dalam Ormrod, 200:140). Contoh: pada masa remaja beberapa
anak muda mulai mengintegrasikan komitmen terhadap nilai-nilai moral kedalam
identitas mereka secara keseluruhan. Mereka menganggap diri mereka sebagai
pribadi bermoral dan penuh perhatian, yang peduli pada hak-hak dan kebaikan
orang lain.
4.
Perbedaan Individual dalam Perkembangan Moral
Bayi tidak
memiliki hierarki nilai dan suara hati. Bayi tergolong nonmoral, tidak bermoral
maupun tidak amoral, dalam artian bahwa perilakunya tidak dibimbing norma-norma
moral. Lambat laun ia akan mempelajari kode moral dari orang tua dan kemudian
dari guru-guru dan teman bermain dan juga ia belajar pentingnya mengikuti
kode-kode moral ini. Belajar berperilaku moral yang diterima oleh sekitarnya
merupakan proses yang lama dan lambat. Tetapi dasar-dasarnya diletakkan dalam
masa bayi dan berdasarkan dasar-dasar inilah bayi membangun kode-kode moral
yang membimbing perilaku bila telah menjadi besar nantinya. Karena keterbatasan
kecerdasannya, bayi menilai benar atau salahnya suatu tindakan menurut
kesenangan atau kesakitan yang ditimbulkannya dan bukan menurut baik atau
buruknya efek suatu tindakan terhadap orang-orang lain.
Untuk
sebagian remaja serta orang dewasa yang penalarannya terhambat atau kurang
berkembang, tahap perkembangan moralnya ada pada tahap prakonvensional. Pada
tahap ini seseorang belum benar-benar mengenal apalagi menerima aturan dan
harapan masyarakat. Pedoman meraka hanyalah menghindari hukuman. Sedangkan bagi
mereka yang dapat mencapai tingkat kedua sudah ada pengertian bahwa untuk
memenuhi kebutuhan sendiri seseorang juga harus memikirkan kepentingan orang
lain.
a. Perkembangan Kepribadian
1. Pengertian Kepribadian
Kepribadian
yang sesungguhnya adalah abstrak (maānawiyah), sukar dilihat atau
diketahui secara nyata, yang dapat diketahui adalah penampilan atau bekasnya
dalam segala segi dan aspek kehidupan. Misalnya dalam menghadapi setiap
persoalan atau masalah, baik yang ringan maupun yang kuat. Orang awam dengan
mudah mengatakan bahwa seseorang itu punya kepribadian baik, kuat dan
menyenangkan, sedangkan ada pula orang yang mengatakan bahwa mempunyai
kepribadian lemah, tidak baik atau buruk dan sebagainya. Sehingga dengan kata
lain pribadi atau kepribadian itu dipakai untuk menunjukkan adanya ciri-ciri
khas yang ada pada seseorang.
May berpendapat bahwa āKepribadian adalah suatu
aktualisasi dari proses hidup dalam seorang individu yang bebas, terintegrasi
dalam masyarakat dan memiliki satu perasaan cemas dalam batin, yang berhubungan
dengan religiusitas. Withington berpendapat āKepribadian
adalah keseluruhan tingkah laku seseorang yang diintegrasikan, sebagaimana yang
nampak pada orang lain. Kepribadian ini bukan hanya yang melekat dalam diri
seseorang tetapi lebih merupakan hasil dari pada suatu pertumbuhan yang lama
suatu kulturil.
2. Proses Perkembangan Kepribadian
a.
Proses
perkembangan kepribadian anak
1)
Pendidikan langsung: melalui
penanaman pengertian tentang tingkah laku sebagai pribadi yang sudah dan benar
atau baik dan buruk oleh orang tua, guru atau orang dewasa lainnya dan hal yang
penting adalah keteladanan itu sendiri.
2)
Identifikasi: dengan cara
mengidentifikasi atau meniru penampilan atau tingkah laku seseorang yang
menjadi idolanya.
3)
Proses coba-coba (trial and error):
dengan cara mengembangkan tingkah laku moral semacam coba-coba. Tingkah laku
yang mendatangkan pujian atau penghargaan akan terus dikembangkan, sementara
tingkah laku yang mendatangkan hukuman atau celaan akan dihentikan.
b.
Proses
perkembangan kepribadian
Keefektifan pendidikan moral di sekolah diteliti oleh
Harshorne dan May pada tahun 1928-1930. Dari penelitian tersebut ditemukan
hal-hal berikut
1)
pendidikan watak atau karakter dan pengajaran agama di
kelas tidak memengaruhi pendidikan prilaku moral.
2)
pendidikan etika yang dilakukan dengan cara
pengklarifikasian nilai, yakni pengajaran tentang aturan-aturan berprilaku
benar dan baik di sekolah sedikit berpengaruh terhadap pembentukan moral
sebagaimana yang dikehendaki.
Dewey menyatakan bahwa pada dasarnya tujuan pendidikan
adalah mengembangkan kemampuan intelektual dan moral, prinsip-prinsip psikologi
dan etika dapat membantu sekolah untuk meningkatkan seluruh tugas pendidikan
dalam membangun kpribadian siswa yang kuat.
3. Aspek-aspek Kepribadian
a.
Aspek
Kejasmanian
Meliputi
tingkah laku luar yang mudah nampak dan ketahuan dari luar.
1)
Dikerjakan oleh lisan: membaca
Al-Qurāan, mempelajari ilmu yang bermanfaat dan mengerjakannya.
2)
Dikerjakan oleh anggota tubuh lain:
berbakti kepada orang tua, memenuhi kebutuhan, menetapkan suatu berdasarkan
musyawarah, memenuhi peraturan, menghormati orang lain dan sebaginya.
b.
Aspek
kejiwaan
Meliputi
aspek-aspek yang tidak dapat dilihat dan tidak ketahuan dari luar.Seperti :
mencintai Tuhan dan agamanya, mencintai dan memberi tanpa pamrih, ikhlas dalam
beramal, sabar tidak sombong, pemaaf, tidak mendendam, dan lain-lain.
c. Aspek kerohanian yang luhur
Meliputi
aspek-aspek kejiwaan yang lebih abstrak yaitu filsafat hidup dan kepercayaan,
meliputi sistem nilai-nilai yang telah meresap di dalam kepribadian yang
mengarah dan memberi corak sebuah kehidupan individu.Bagi yang beragama aspek
inilah yang menentukan kebahagiaan hidup di dunia dan akhirat. Yoesoef
Noessyirwan (1978) menganalisis kepribadian ke dalam empat daerah
bagian atau aspek, yaitu :
1)
Vitalitas sebagai konstanta dari
semangat hidup pribadi.
2)
Temperamen sebagai konstanta dari
warna dan corak pengalaman pribadi serta cara bereaksi dan bergerak.
3)
Watak sebagai konstanta dan hasrat,
perasaan dan kehendak pribadi mengenai nilai-nilai.
4)
Kecerdasan, bakat, daya nalar
sebagai konstanta kemampuan pribadi
4. Faktor-faktor yang Mempengaruhi
Terbentuknya Kepribadian
Andi Mappiare mengatakan bahwa kepribadian terbentuk dari
tiga factor, yaitu:
a. Pembawaan (hereditas)
Pembawaan
ialah segala sesuatu yang telah dibawa oleh anak sejak lahir, baik yang
bersifat kejiwaan maupun yang bersifat keturunan.Anak merupakan warisan dari
sifat-sifat pembawaan orang tuanya yang merupakan potensi tertentu. Beberapa
ahli ilmu pengetahuan menekankan pentingnya faktor keturunan ini bagi
pertumbuhan fisik, mental maupun sifat kepribadian yang diinginkan: Pertumbuhan
fisik, Kemampuan mental dan bakat khusus.
b. Lingkungan
Faktor
lingkungan yang ikut mempengaruhi terbentuknya kepribadian terdiri dari
lingkungan bersifat sosial dan lingkungan fisik. Yang dimaksud lingkungan
sosial ialah lingkungan yang terdiri dari sekelompok individu (group)
interaksi antara individu tersebut menimbulkan proses sosial dan proses ini
mempunyai pengaruh yang penting dalam perkembangan pribadi seseorang dengan
pendidikan lingkungan sosial yang disebut pergaulan erat dengan seseorang
berupa tingkah laku, sikap, mode pakaian atau cara berpakaian dan sebagainya.
Lingkungan fisik (alam) mempunyai pengaruh terhadap perkembangan pribadi
seseorang.
Anak yang
dibesarkan di daerah pantai akan lain dengan anak yang dibesarkan di daerah
pegunungan. Meskipun kebudayaan mempunyai pengaruh terhadap kepribadian
seseorang, namun kadar pengaruhnya berbeda menurut umur dan fase pertumbuhan.
Faktor lingkungan yang paling berperan dalam perkembangan kepribadian adalah:
Rumah, Sekolah, Teman sebaya. Faktor yang tidak kalah penting dalam memahami
perkembangan kepribadian anak ialah self concept (citra diri)
yaitu kehidupan kejiwaan yang terdiri atas perasaan, sikap pandang, penilaian,
dan anggapan yang semuanya akan terpengaruh dalam keputusan tindakan
sehari-hari.
5. Hubungan Antara Pola Asuh Orang
Tua Otoriter dengan Perkembangan Kepribadian Siswa
Orang tua
merupakan pendidik utama dan pertama bagi anak-anak, karena dari merekalah anak
mula-mula menerima pendidikan.Dengan demikian bentuk pertama dari pendidikan
terdapat dalam kehidupan keluarga. Berdasarkan peneltiian yang dilakukan oleh
Hirschi dan Selvin (1967) sebagaimana dikutip oleh Dadang Hawari menujukkan
bahwa kepribadian orang tua sangat mempengaruhi perkembangan jiwa anak.bila
salah seorang atau kedua oang tua mempunyai kelainan kepribadian orang tua
mempunyai kelainan kepribadian, maka presentase kenakalan anak akan jauh lebih
tinggi daripada kalau kedua orang tua tidak mempunyai kelainan kepribadian.
Pola tingkah
laku pikiran dan sugesti ayah ibu dapat mencetak pola yang hampir sama pada
anak-anak. Tingkah laku orang tua itu mudah sekali menular kepada anak-anak,
khususnya mudah dioper oleh anak-anak puber dan adolensens yang jiwanya belum
stabil dan tengah mengalami banyak gejolak batin. Perkembangan kepribadian anak
dipengaruhi oleh beberapa faktor. Faktor yang berasal dari dalam misalnya:
faktor-faktor yang berhubungan dengan konstitusi tubuh, struktur tubuh dan
keadaan fisik, koordinasi motorik, kemampuan mental dan bakat khusus dan
emosionalitas. Sedangkan faktor dari luar adalah lingkungan seperti ; rumah,
sekolah dan teman sebaya.
b. KESIMPULAN
Perkembangan
moral didasarkan terutama pada penalaran moral dan berkembang secara bertahap.
Perkembangan moral (moral development) berkaitan dengan aturan dan konvensi
tentang apa yang seharusnya dilakukan oleh manusia dalam interaksinya dengan
orang lain.
Perkembangan
moral (moral development) melibatkan perubahan seiring usia pada pikiran,
perasaan, dan perilaku berdasarkan prinsip dan nilai yang mengarahkan bagaimana
seseorang seharusnya bertindak. Perkembangan moral memiliki dimensi
intrapersonal (nilai dasar dalam diri seseorang dan makna diri) dan dimensi
interpersonal (apa yang seharusnya dilakukan orang dalam interaksinya dengan
orang orang lain).
Kepribadian
adalah keseluruhan tingkah laku seseorang yang diintegrasikan, sebagaimana yang
nampak pada orang lain. Kepribadian ini bukan hanya yang melekat dalam diri
seseorang tetapi lebih merupakan hasil dari pada suatu pertumbuhan yang lama
suatu kulturil.
Dalam
proses pembentukan kepribadian seorang remaja, hal yang paling mempengaruhi
adalah sekolah. Pentingnya sekolah dalam memainkan peranan didiri siswa dapat
dilihat dari realita sekolah sebagai tempat yang harus dihadiri setiap
hari.Sekolah memberi pengaruh kepada anak secara dini seiring dengan masa
perkembangan konsep diri, anak-anak menghabiskan waktu lebih banyak di sekolah
dari pada di rumah.Di samping itu sekolah memberi kesempatan siswa untuk meraih
sukses serta memberi kesempatan pertama kepada anak untuk menilai dirinya dan
kemampuannya secara realistik.
DAFTAR PUSTAKA
Chasiru Zainal Abidin. 2013. Psikologi
Perkembangan, Surabaya: UIN Sunan Ampel.
Diane E. Papalia. 2008. Human Development (Psikologi Perkembangan),
diterjemahkan oleh A.K. Anwar: Jakarta: Kencana.
Hurlock,
E.B. 1993. Child Development, Mc Graw
Hill Book Company, NY, USA.
Kartini
Kartono. 1979. Psikologi Anak,
Penerbit Alumni: Bandung.
Sunarto, Hartono Agung. 2008. Perkembangan Peserta Didik. Jakarta:
Rineka Cipta.
Yusuf LN, H. Syamsu. 2006. Psikoogi perkembangan anak dan remaja.
Bandung: PT Remaja Rosdakarya.
- Get link
- X
- Other Apps
Comments
Post a Comment