KRITIK DAN SYARAH HADITS: NIAT MENURUT HADIS DAN PENGARUHNYA TERHADAP MOTIVASI PEMBELAJARAN





BAB I
PENDAHULUAN
Niat adalah salah satu unsur terpenting dalam setiap perbuatan yang dilakukan oleh manusia. Bahkan dalam setiap perbuatan yang baik dan benar (ibadah) menghadirkan niat hukumnya fardhu bagi setiap pelaksananya. Banyak hadis yang mencantumkan seberapa penting arti menghadirkan niat dalam setiap perbuatan. Niat juga mengandung makna keikhlasan terhadap apa yang akan kita kerjakan sebab suatu aktivitas muslim dapat dikategorikan ibadah jika dilandasi dengan niat yang ikhlas, semata-mata karena Allah. Hal ini ditegaskan Allah dalam Quran surat al-Bayyinah ayat 5: "Padahal mereka tidak disuruh kecuali supaya menyembah Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya dalam (menjalankan) agama yang lurus, dan supaya mereka mendirikan shalat dan menunaikan zakat; dan yang demikian itulah agama yang lurus”.
Jadi pada intinya setiap niat yang baik pasti menghasilkan perbuatan yang baik pula dan sebaliknya, setiap niat yang buruk akan menghasilkan perbuatan yang buruk pula.



BAB II
KRITIK DAN SARAH HADITSNIAT

1.      PENGERTIAN SANAD
Sanad merupakan istilah ahli hadits (ulama) yang membahas tentang hadits Rasulullah SAW dari sisi periwayatannya. Sanad berarti orang-orang yang meriwayatkan suatu hadits, bersambung dari Rasulullah SAWsampai penyusun kitab hadits seperti Imam Bukhari, Muslim atau yang lain.
Contoh sanad yang berkaitan dengan makalah ini adalah hadits niat diriwayatkan dari Rasulullah SAW oleh Umar RA, kemudian ‘Alqamah menceritakan hadits tersebut dari Umar kepada rawi setelahnya, begitu hingga sampai kepada Imam Bukhari.
Sanad merupakan cara untuk menentukan apakah suatu hadits benar penisbatannya kepada Rasulullah SAW atau tidak, yaitu dengan memperhatikan sifat para perawi, bagaimana keadaan mereka dari segi kejujuran, hapalan dan agamanya.
Penghukuman shahih atau tidaknya suatu hadits sudah dilakukan oleh para ulama sejak zaman dahulu sampai sekarang. Jika suatu hadits dihukumi dengan shahih atau hasan berarti hadits itu pantas dijadikan landasan beragama, namun jika suatu hadits dihukumi dengan dhaif, maka berarti tidak boleh mengamalkan kandungan hadits tersebut dengan meyakini bahwa Rasulullah SAW adalah pengucapnya.
Selain itu, apabila ada seseorang yang ingin mengkritik Islam dari sisi keabsahan al Qur’an maupun hadits, dia tidak akan bisa, karena dia harus berhadapan dengan kaidah-kaidah periwayatan yang diwariskan oleh para ulama kita. Maka jika ada seseorang yang ingin mengkritik suatu hadits misalnya, dan mengaatakan bahwa hadits ini bukan berasal dari Rasulullah SAW, ia harus memperhatikan dari sisi para perawinya.
Hal ini juga diakui oleh orang-orang diluar Islam, seperti disebutkan oleh seorang Eropa “Sungguh kita tidak bisa berkata kecuali bahwa sanad yang bersambungbaik al Qur’an maupun hadits hanya dimiliki oleh kaum muslimin saja, maka jika ada seorang yang ingin menolak suatu hadits maka dia sendirilah yang harus membuktikan hal itu.


2.      KRITIK SANAD HADITS NIAT
حَدَّثَنَا الْحُمَيْدِيُّ عَبْدُ اللَّهِ بْنُ الزُّبَيْرِ، قَالَ: حَدَّثَنَا سُفْيَانُ، قَالَ: حَدَّثَنَا يَحْيَى بْنُ سَعِيدٍ الْأَنْصَارِيُّ، قَالَ: أَخْبَرَنِي مُحَمَّدُ بْنُ إِبْرَاهِيمَ التَّيْمِيُّ، أَنَّهُ سَمِعَ عَلْقَمَةَ بْنَ وَقَّاصٍ اللَّيْثِيَّ، يَقُولُ: سَمِعْتُ عُمَرَ بْنَ الْخَطَّابِ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ عَلَى الْمِنْبَرِ، قَالَ: سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ يَقُولُ: " إِنَّمَا الْأَعْمَالُ بِالنِّيَّاتِ، وَإِنَّمَا لِكُلِّ امْرِئٍ مَا نَوَى، فَمَنْ كَانَتْ هِجْرَتُهُ إِلَى دُنْيَا يُصِيبُهَا أَوْ إِلَى امْرَأَةٍ يَنْكِحُهَا، فَهِجْرَتُهُ إِلَى مَا هَاجَرَ إِلَيْهِ "
حَدَّثَنَا عَبْدُ اللَّهِ بْنُ مَسْلَمَةَ، قَالَ: أَخْبَرَنَا مَالِكٌ، عَنْ يَحْيَى بْنِ سَعِيدٍ، عَنْ مُحَمَّدِ بْنِ إِبْرَاهِيمَ، عَنْ عَلْقَمَةَ بْنِ وَقَّاصٍ، عَنْ عُمَرَ، أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ قَالَ: " الْأَعْمَالُ بِالنِّيَّةِ وَلِكُلِّ امْرِئٍ مَا نَوَى، فَمَنْ كَانَتْ هِجْرَتُهُ إِلَى اللَّهِ وَرَسُولِهِ فَهِجْرَتُهُ إِلَى اللَّهِ وَرَسُولِهِ، وَمَنْ كَانَتْ هِجْرَتُهُ لدُنْيَا يُصِيبُهَا أَوِ امْرَأَةٍ يَتَزَوَّجُهَا فَهِجْرَتُهُ إِلَى مَا هَاجَرَ إِلَيْهِ ""
حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ كَثِيرٍ، عَنْ سُفْيَانَ، حَدَّثَنَا يَحْيَى بْنُ سَعِيدٍ، عَنْ مُحَمَّدِ بْنِ إِبْرَاهِيمَ التَّيْمِيِّ، عَنْ عَلْقَمَةَ بْنِ وَقَّاصٍ اللَّيْثِيِّ، قَالَ: سَمِعْتُ عُمَرَ بْنَ الْخَطَّابِ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ، عَنِ النَّبِيِّ  قَالَ: " الْأَعْمَالُ بِالنِّيَّةِ، وَلِامْرِئٍ مَا نَوَى، فَمَنْ كَانَتْ هِجْرَتُهُ إِلَى اللَّهِ وَرَسُولِهِ فَهِجْرَتُهُ إِلَى اللَّهِ وَرَسُولِهِ، وَمَنْ كَانَتْ هِجْرَتُهُ لِدُنْيَا يُصِيبُهَا أَوِ امْرَأَةٍ يَتَزَوَّجُهَا فَهِجْرَتُهُ إِلَى مَا هَاجَرَ إِلَيْهِ "
حَدَّثَنَا مُسَدَّدٌ، حَدَّثَنَا حَمَّادٌ هُوَ ابْنُ زَيْدٍ، عَنْ يَحْيَى، عَنْ مُحَمَّدِ بْنِ إِبْرَاهِيمَ، عَنْ عَلْقَمَةَ بْنِ وَقَّاصٍ، قَالَ: سَمِعْتُ عُمَرَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ، قَالَ: سَمِعْتُ النَّبِيَّ يَقُولُ: " الْأَعْمَالُ بِالنِّيَّةِ فَمَنْ كَانَتْ هِجْرَتُهُ إِلَى دُنْيَا يُصِيبُهَا أَوِ امْرَأَةٍ يَتَزَوَّجُهَا، فَهِجْرَتُهُ إِلَى مَا هَاجَرَ إِلَيْهِ، وَمَنْ كَانَتْ هِجْرَتُهُ إِلَى اللَّهِ وَرَسُولِهِ فَهِجْرَتُهُ إِلَى اللَّهِ وَرَسُولِهِ "
حَدَّثَنَا يَحْيَى بْنُ قَزَعَةَ، حَدَّثَنَا مَالِكٌ، عَنْ يَحْيَى بْنِ سَعِيدٍ، عَنْ مُحَمَّدِ بْنِ إِبْرَاهِيمَ بْنِ الْحَارِثِ، عَنْ عَلْقَمَةَ بْنِ وَقَّاصٍ، عَنْ عُمَرَ بْنِ الْخَطَّابِ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ، قَالَ: قَالَ النَّبِيُّ: " الْعَمَلُ بِالنِّيَّةِ، وَإِنَّمَا لِامْرِئٍ مَا نَوَى، فَمَنْ كَانَتْ هِجْرَتُهُ إِلَى اللَّهِ وَرَسُولِهِ فَهِجْرَتُهُ إِلَى اللَّهِ وَرَسُولِهِ  وَمَنْ كَانَتْ هِجْرَتُهُ إِلَى دُنْيَا يُصِيبُهَا أَوِ امْرَأَةٍ يَنْكِحُهَا فَهِجْرَتُهُ إِلَى مَا هَاجَرَ إِلَيْهِ "
حَدَّثَنَا قُتَيْبَةُ بْنُ سَعِيدٍ، حَدَّثَنَا عَبْدُ الْوَهَّابِ، قَالَ: سَمِعْتُ يَحْيَى بْنَ سَعِيدٍ، يَقُولُ: أَخْبَرَنِي مُحَمَّدُ بْنُ إِبْرَاهِيمَ، أَنَّهُ سَمِعَ عَلْقَمَةَ بْنَ وَقَّاصٍ اللَّيْثِيَّ، يَقُولُ: سَمِعْتُ عُمَرَ بْنَ الْخَطَّابِ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ، يَقُولُ: سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ يَقُولُ: " إِنَّمَا الْأَعْمَالُ بِالنِّيَّةِ، وَإِنَّمَا لِامْرِئٍ مَا نَوَى، فَمَنْ كَانَتْ هِجْرَتُهُ إِلَى اللَّهِ وَرَسُولِهِ، فَهِجْرَتُهُ إِلَى اللَّهِ وَرَسُولِهِ، وَمَنْ كَانَتْ هِجْرَتُهُ إِلَى دُنْيَا يُصِيبُهَا، أَوِ امْرَأَةٍ يَتَزَوَّجُهَا، فَهِجْرَتُهُ إِلَى مَا هَاجَرَ إِلَيْهِ "
حَدَّثَنَا أَبُو النُّعْمَانِ، حَدَّثَنَا حَمَّادُ بْنُ زَيْدٍ، عَنْ يَحْيَى بْنِ سَعِيدٍ، عَنْ مُحَمَّدِ بْنِ إِبْرَاهِيمَ، عَنْ عَلْقَمَةَ بْنِ وَقَّاصٍ، قَالَ: سَمِعْتُ عُمَرَ بْنَ الْخَطَّابِ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ يَخْطُبُ، قَالَ: سَمِعْتُ النَّبِيَّ يَقُولُ: " يَا أَيُّهَا النَّاسُ إِنَّمَا الْأَعْمَالُ بِالنِّيَّةِ، وَإِنَّمَا لِامْرِئٍ مَا نَوَى، فَمَنْ كَانَتْ هِجْرَتُهُ إِلَى اللَّهِ وَرَسُولِهِ فَهِجْرَتُهُ إِلَى اللَّهِ وَرَسُولِهِ، وَمَنْ هَاجَرَ إِلَى دُنْيَا يُصِيبُهَا، أَوِ امْرَأَةٍ يَتَزَوَّجُهَا، فَهِجْرَتُهُ إِلَى مَا هَاجَرَ إِلَيْهِ "

Ø  Kritik Sanad Hadis
Sebagaimana diketahui bahwa dalam penelitian hadits meliputi bagian sanad dan matan. Karena kesahihan hadis tidak terbatas pada sanadnya saja, akan tetapi matan pun memiliki peranan penting di dalamnya. Oleh karena itu, untuk mengetahui kualitas hadis di atas maka perlu dilihat dari dua aspek, sanad dan matan.
Adapun kajian sanadnya diawali dengan penjelasan biografi serta pendapat para kritikus hadis mengenai perawi-perawi hadistersebut yang dapat dilihat sebagai berikut :
1)      Umar bin Khattab[1]
Nama lengkapnya adalah Umar bin Khattab bin Nufail bin Abdul 'Uzza bin Rayyah bin Abdullah bin Qarth bin Razzah bin 'Adiy al-Qurasyi al-'Adawi Abu Hafsh Amirul mu'minin. Ia dilahirkan menurut salah satu pendapat sekitar sebelas tahun setelah tahun gajah. Ia termasuk salah seorang pemuka Quraisy sekaligus sahabat Nabi yang dimuliakan. Bagaimana tidak? Sejak memeluk Islam, ia mengabdikan hidupnya hanya untuk pengembangan dan kejayaan Islam. Bahkan disebutkan dalam salah satu hadis riwayat Ibnu Umar bahwa Rasulullah memukul-mukul dada Umar bin Khattab lalu sambil mendoakannya : اللهم أخرج ما في صدره من غل وأبدله إيمانا (Ya Allah keluarkan segala kedengkian yang ada di dalam hatinya, serta gantikanlah dengan keimanan). Banyak literatur dan keterangan yang menunjukkan kemuliaan Umar, di antaranya adalah kepercayaan masyarakat menyetujuinya menjadi khalifah yang kedua setelah meninggalnya sayyidina Abu Bakar as-shiddiq. Namun karena musibah yang menimpanya sehingga ia terbunuh dan wafat pada hari rabu di empat hari terakhir Zulhijjah tahun 23 H.
2)      ‘Alqamah bin Waqqash
Nama lengkapnya adalah 'Alqamah bin Waqqash bin Muhshin bin Kildah al-Laitsi al-'Atwari al-madani. Ia termasuk dalam tingkatan kibar al-Tabi'in. Muhammad bin Sa'ad mengomentari bahwa 'Alqamah hanya memiliki sedikit hadis, ia tinggal di Madinah. Di sana ia memiliki banyak peninggalan khususnya yang terkait dengan ilmu pengetahuan. Ia wafat pada masa pemerintahan Abdul Malik bin Marwan yaitu sekitar tahun 86 H. Di antara gurunya adalah Bilal bin Harits, Umar bin Khattab dan Amr bin Ash. Adapun di antara muridnya adalah anaknya sendiri (Abdullah bin 'Alqamah), Muhamad bin Ibrahim, Muhammad bin Muslim. Ia termasuk ulama yang dihormati sebagaimana pengkategorian para kritikus terhadapnya, di mana mereka misalnya al-nasa'I, Ibnu Hajar dan al-Dzahabi memasukkannya dalam kategori ثقة .
3)      Muhammad bin Ibrahim
Nama lengkapnya adalah Muhammad bin Ibrahim bin harits bin Khalid al-Qurasyi at-Taimi Abu Abdillah al-Madani. Kakeknya yang bernama Harits bin Khalid termasuk al-Muhajirin al-awwalin (golongan sahabat yang pertama kali hijrah) sekaligus termasuk sepupu abu Bakar. Ia Muhammad termasuk dalam golongan ulama tingkatan di bawah (hidup dimasa pertengahan) وسطى التابعين, wafat di Madinah pada masa pemerintahan Hisyam bin Abdul Malik sekitar tahun 120 H. di antara gurunya adalah Usamah bin Zaid, Anas bin Malik, dan 'Alqamah bin Waqqash. Sementara muridnya adalah Humaid bin Qaish al-A'raj, Abdullah bin Thawus, dan Yahya bin Sa'id. Para kritikus hadis termasuk di antaranya Ishaq bin Manshur, Yahya bin Mu'in dan al-Nasa'i mengganggapnya ثقة, sekalipun Ahmad bin Hanbal mengomentarinya dengan mengatakan bahwa ia terkadang meriwayatkan beberapa hadis mungkar, atau dalam istilah yang lain ia tergolong ثقة له أفراد .
4)      Yahya bin Sa'id
Nama lengkapnya adalah Yahya bin Sa'id bin Qais bin Amr bin Sahl al-Anshari al-Najjari Abu Sa'id al-madani  Qadhi Madinah. Ia termasuk dalam tingkatan (bertemu sahabat pada masa kecil) صغار التابعين . tidak ada keterangan sepanjang pengetahuan penulis yang menunjukkan kapan ia dilahirkan, hanya disebutkan ia wafat di daerah Hasyimiah pada tahun 144 H. di antara gurunya adalah Anas bin Malik, Sa'id bin Musayyab, dan Muhammad bin Ibrahim. Adapun murid-muridnya, di antaranya adalah Hammad bin Zaid, Sufyan bin 'Uyainah, Sufyan al-Tsauri, Abdul Wahab al-Tsaqai, dan Malik bin Anas. Para kritikus hadis memberikan penilaian yang baik kepadanya, misalnya saja al-nasa'I menganggapnya ثقة ثبت ورجل صالح, Ahmad bin Hanbal mengkategorikannya sebagai اثبت الناس, dan komentar-komentar yang lain yang menunjukkan ketinggian derajat dan kemuliaan Yahya bin Sa'id di mata para ulama hadis.
5)      Malik bin Anas
Nama lengkapnya adalah Malik bin Anas bin Malik bin Abi Amir al-Ashbani, Imam Madinah dan salah seorang dari empat Imam di kalangan Ahlu Sunnah. Dia berguru pada Nafi' Maula Ibnu Umar, Zuhri, Rabiah ar-Ra'yi, Abu Zinad,Yahya bin Said dan lainnya. Sedangkan diantara muridnya yaitu, Yahya bin Qaza’ah, Abdullah bin Maslamah, Ahmad bin Abu Bakar Al Quraisy dan sebagainya. Imam Malik terkenal sangat hati-hati dalam hal kepada siapa dia mengambil ilmu, dalam mengambil riwayat hadis, dan dalam memberi fatwa. Fiqihnya terkenal dengan mengikuti al-Qur'an, Sunnah dan amalan penduduk Madinah. Imam Malik mempunyai karisma yang tinggi, dia berpegang teguh pada prinsipnya, sehingga gubernur Madinah pernah mencambuknya antara 30 sampai 100 kali karena dia menolak memberi fatwa dengan jatuhnya talak yang dipaksakan. Keagungannya dapat terlihat pada perkataan Imam ahmad bin Hanbal مالك أثبت في كل شيئ dan komentarnya Muhammad bin Sa'ad ثقة مأمون ثبت حجة. Imam Malik lahir di Madinah pada Tahun 93 H dan waat pada tahun 179 H di Madinah.
6)      Sufyan bin 'Uyainah
Nama lengkapnya adalah Sufyan bin 'Uyainah bin Abi Imran Maimun al-Hilali Abu Muhammad al-Kufi al-Makki. Ia lahir pada tahun 107 H, dan tumbuh sebagai anak yang gemar menuntut ilmu hingga ia terkenal ke seantaro hijaz, bahkan Imam Syafi'i sempat mengatakan bahwa sekiranya bukan karena Imam Malik dan Sufyan bin 'Uyainah maka pasti akan lenyap ilmu dari Hijaz. Ia termasuk dalam tingkatan الوسطى من أتباع التابعين. Muhammadn bin Umar mengatakan bahwa Sufyan wafat pada hari sabtu di bulan Rajab tahun 198 H dan dimakamkan di Hujun. Di antara gurunya adalah Adam bin Sulaiman, Yahya bin Zaid dan Ibrahim bin Amir, sementara murid-muridnya, di antaranya Aswad bin Amir, Muhammad bin katsir dan al-Humaidi. Betapa banyak komentar para ulama mengenai dirinya, di mana semua komentar tersebut saling menegaskan kemuliaan dan keagungan Sufyan bin Uyainah. Sebagai contoh, Ali bin al-Madini mengatakan bahwa tidak ada murid al-Zuhri yang lebih sempurna selain Sufyan bin 'Uyainah. Demikian pula Ibnu Hajar mengkategorikannya sebagaiثقة حافظ فقيه إمام حجة إلا أنه تغير حفظه بأخرة  .و كان ربما دلس لكن عن الثقات
7)      Hammad bin Zaid
Nama lengkapnya adalah Hammad bin Zaid bin Dirham al-Azdi al-Jahdami Abu Ismail al-Bashri al-Azraq. Ia dilahirkan sekitar tahun 98 H. dan wafat pada tahun 179 H. ia tergolong dalam tingkatan الوسطى من اتباع التابعين, di antara gurunya adalah Yahya bin Sa'id, al-Walid bin Dinar, dan Yazid bin Hazim. Adapun muridnya, termasuk di antaranya adalah Sufyan al-tsauri, Sufyan bin 'Uyainah, Abu Nu’mandan Musaddad. Ia termasuk ulama yang dikagumi, hal itu tergambar dari pernyataan Abdurrahman bin Mahdi bahwa, "saya tidak pernah menemukan orang yang lebih faqih dari Hammad di Bashrah, atau pernyatan Yazid bin Zurai' bahwa Hammad termasuk اثبت في الحديث , demikian ulama yang lain menyebutnya sebagai ثقت ثبت .
8)      Abdul Wahab
Nama lengkapnya adalah Abdul Wahab bin Abdul Majid bin Shalt bin Ubaidillah bin Hikam bin Abi Ash al-Tsaqafi Abu Muhammad al-Bashri. Kakeknya yang bernama Hikam merupakan saudara Utsman bin Abu Ash. Ia dilahirkan sekitar tahun 108 H. dan wafat pada tahun 194 H, termasuk dalam tabaqatالوسطى من التابعين dan tumbuh sebagai seorang ulama besar yang banyak menerima ilmu dari guru-gurunya. Di antaranya Daud bin Abi Hindi, Abdullah bin Aun, dan Yahya bin Said. Banyak pula orang yang datang menimba ilmu darinya, termasuk di antaranya Hasan bin Arafah, Humaid bin Mus'adah dan Qutaibah bin Said. Ulama Kritikus hadis mengkategorikannya sebagai ulama tsiqah, hanya saja ketsiqahannya berubah sekitar tiga tahun sebelum wafatnya. Namun terlepas dari itu semua, ia tetap dikagumi oleh para ulama. Misalnya saja pernyataan Yahya bin Mu'in bahwasanya Hammad adalah ثقة , dan terkait dengan kajian hadis ini cukuplah pernyataan Ali bin al-Madini yang menguatkannyaليس فى الدنيا كتاب عن يحيى أصح من كتاب عبد الوهاب ، و كل كتاب عن يحيى فهو عليه كل ـ يعنى كتاب عبد الوهاب ـ
9)      Abdullah bin Maslamah
Nama lengkapnya adalah Abdullah bin Maslamah bin Qa'nab al-Qa'nabi al-Haritsi Abu Abdirrahman al-Madani. Tidak ada keterangan mengenai waktu kelahirannya namun diketahui bahwa ia wafat di Mekah pada tahun 221 H. dan termasuk dalam golongan صغار اتباع التابعين . ia pernah berguru pada Hammad bin zaid, Hatim bin Ismail dan Malik bin Anas. Sedangkan murid-muridnya adalah al-Bukhari, Muslim, Abu Daud dan al-Nasa'i. Ia dianggap oleh Ahmad bin Abdullah al-Ajali sebagai بصرى ، ثقة ، رجل صالح , Abu Hatim mengkategorikannya sebagai ثقة حجة . dan bisa disimpulkan bahwa ia memang termasuk ulama tsiqah.
10)         Abdullah al-humaidi
Nama lengkapnya adalah Abdullah bin Zubair bin Isa bin Ubaidillah al-Qurasyi al-Asadi Abu baker al-Humaidi al-Makki. Tergolong dalam tingkatan كبارالآخذين عن تبع الأتباع , ia wafat di Mekah pada tahun 219 H. guru-gurunya, di antaranya Sufyan bin Uyainah, Muhammad bin Idris al-syafi'I, dan Marwan bin Mu'awiyah. Adapun muridnya, di antaranya al-Bukhari, Muhammad bin Yunus al-nasa'I, dan lainnya. Para kritikus hadis menyebutnya sebagai ثقة حافظ, hal ini terbukti dari ungkapan Abu Hatim أثبت الناس فى ابن عيينة الحميدى ، و هو رئيس أصحاب ابن عيينة ، و هو ثقة إمام , dan masih banyak komentar yang lain yang mengarah kepada pujian untuknya.
11)        Musaddad
Nama lengkapnya adalah Musaddad bin Masarhad bin Masrabil al-asadi Abu Hasan al-Bashri. Tidak ada keterangan yang jelas mengenai kapan ia dilahirkan, namun hanya disebutkan bahwa ia wafat pada tahun 228 H di Bashrah, dan ia masuk dalam tingkatan كبارالآخذين عن تبع الأتباع . di antara gurunya adalah Umayyah bin Khalid, Hammad bin zaid dan Sufyan bin Uyainah. Sedangkan orang yang pernah berguru padanya adalah al-Bukhari, Abu Daud dan Abu Zur'ah. Para kritikus hadis menyebutnya dengan tsiqah hafidhz, ini terlihat dari pernyataan Abu Hatim ketika ditanya mengenai Musaddad bahwa كان ثقة , demikian pula penilaian Yahya bin Muin dan al-Nasa'i.
12)Yahya bin Qaza’ah
Nama lengkapnya adalah Yahya bin Qaza’ah al-Quraisy. Ia tinggal di Makah. dan wafat di sana pada tahun 248 H. Nama gurunya yaituMalik bin Annas, Ibrahim bin Sa’id, Ibrahim bin Mahdi, Al Mughirah bin Abdurrahman, Daud bin Khalid, Abdul Hamid bin Sulainman. Adapun muridnya termasukMuhammad bin Ismailal-Bukhari. Abu hatim menganggapnya ثقة, Ibnu hajar Asqalani menyebutnya مقبول, al-dzahabi menyebutnya dengan ثقة.
13)Abu Nu'man
Nama lengkapnya adalah Muhammad bin Fadhl al-Sadusi Abu Nu'man al Bashri dikenal dengan sebutan 'Arim. Ia termasuk dalam tingkatan من صغار أتباع التابعين , ia tinggal di Bashrah dan waat di sana pada bulan Safar tahun 224 H. di antara gurunya ada yang bernama Hammad bin zaid, Abdullah bin al-Mubarak dan Mahdi bin Maimun. Sedangkan murid-muridnya, di antaranyaAl Bukhari, Ahmad bin Sa'id al-Darimi, Ahmad bin Hanbal dan Abu Zur'ah. Al-Bukhari menyebutnya تغير في آخر عمره, hanya saja, sekalipun demikian ia tetap dikategorikan sebelumnya sebagai ثقة .
14)Qutaibah bin Sa'id
Nama lengkapnya adalah Qutaibah bin Sa'id bin Jamil bin Tharif bin Abdullah al-Tsaqafi Abu Raja' al-Balkhi al-Buglani. Ada yang berpendapat bahwa nama sebenarnya adalah yahya bin Sa'id sedangkan Qutaibah hanya merupakan laqab untuknya. Lahir pada tahun 148 H dan wafat pada tahun 240 H. Termasuk dalam tingkatan كبارالآخذين عن تبع الأتباع . Banyak komentar dari para kritikus hadis namun dapat disimpulkan bahwa ia tergolong ulama yang ثقة ثبت , hal ini tampak dari pernyataan Yahya bin Muin, al-nasa'I, abu Hatim al-Razi dan Ibnu Hibban.Diantara guru-gurunya adalah Abdul Wahab,  Abu Bakar bin Abbas. Ia juga termasuk guru dari Muhammad bin Isma’il Al-Bukhori.
15)Muhammad bin Katsir
Nama lengkapnya adalah Muhammad bin Katsir al-Abdi Abu Abdillah al-Bashri saudara Sulaiman bin Katsir. Dilahirkan pada tahun 133 H dan wafat tahun 223 H sehingga pada hari kematiaannya ia berusia 90 tahun., tergolong dalam tingkatan كبارالآخذين عن تبع الأتباع . ia pernah berguru kepada Sufyan al-Tsauri, Hammam bin Yahya dan Israil bin Yunus, dan Sufyan bin Uyainah. Adapun murid-muridnya, termasuk al-Bukhari, abu Daud dan Ali bin al-Madini. Ulama kritikius hadis memiliki komentar yang berbeda, misalnya Yahya bin Muin mengatakan bahwa لا تكتبوا عنه ، و قال : لم يكن بالثقة , Abu Hatim menggolongkannya sebagai صدوق , akan tetapi Ibnu Hibban menyebutnya dalam tingkatan ثقة . hanya saja setelah memperhatikan beberapa kaidah yang terkait dengan kontradiksi pendapat ulama dalam men-jarah dan men-Ita'dil seseorang termasuk di antaranya adalah kaidah الجرح اذا كان مفسرا فهو مقدم على التعديل (apabila kelemahannya dijelaskan maka itu didahulukana daripada kejujurannya), إذا كان المعدلون اكثر او احفظ فهو عدل والا فهو مجروح (apabila yang menilainya adil/baik lebih banyak atau lebih hafidhz maka rawi tersebut adil, tetapi bila sebaliknya maka tentunya dia juga lemah).[2] Dari kaidah tersebut, penulis berkeyakinan bahwa Muhammad bin Katsir tetap tergolong ثقة .
Setelah melihat biografi para perawi hadis dalam semua rentetan sanad yang ada maka penulis menyimpulkan bahwa jalur sanadmelalui al-Bukharimemiliki kualitas sanad yang sahih.
Hadits ini disepakati oleh para ulama keshohihannya, ia adalah hadits fardun mutlak, karena ia hanya mempunyai satu sanad saja,[3]yaitu bahwa tidak ada yang meriwayatkan dari kalangan shohabat kecuali Umar bin Al Khoththob, dan tidak ada yang meriwayatkan dari Umar kecuali Alqomah bin Waqoosh Al-Laitsi, dan tidak ada yang meriwayatkan dari Alqomah kecuali Muhammad bin Ibrohim At Taimi dan tidak ada yang meriwayatkan darinya kecuali Yahya bin Sa’id Al Anshori, dan dari beliau banyak sekali ulama yang meriwayatkannya.


BAB III
KESIMPULAN

Dari uraian-uraian di atas yang berbicara tentang "Niat dalam Perspektif Hadis Nabi; Kajian Analisis Tematik Terhadap Hadis Innama al-A'malu bi al-Niat dapat ditarik beberapa kesimpulan sebagai berikut:
  1. Hadis yang disebutkan di atas memiliki kualitas sahih, baik dari segi sanad maupun matan. Karena semua kriteria kesahihan termasuk bersambungnya sanad, perawinya 'adil dan dhabit, tidak mengandung syadz dan illat  semuanya terpenuhi. Bahkan bila semua riwayat yang terkait semakna dengan hadis di atas dikaitkan maka kualitasnya akan semakin kuat karena hadis-hadis tersebut saling mendukung antara satu dengan yang lain.
2.      Hadits tersebut di atas disepakati oleh para ulama keshohihannya, ia adalah hadits fardun mutlak, karena ia hanya mempunyai satu sanad saja,yaitu bahwa tidak ada yang meriwayatkan dari kalangan shohabat kecuali Umar bin Al Khoththob, dan tidak ada yang meriwayatkan dari Umar kecuali Alqomah bin Waqoosh Al-Laitsi, dan tidak ada yang meriwayatkan dari Alqomah kecuali Muhammad bin Ibrohim At Taimi dan tidak ada yang meriwayatkan darinya kecuali Yahya bin Sa’id Al Anshori, dan dari beliau banyak sekali ulama yang meriwayatkannya.


BAB IV
DAFTAR PUSTAKA
Abdul mahdi bin Abdul Qadir bin al-Hadi, 'Ilmu al-Jarh wa al-Ta'dil Qawaiduhu wa Aimmatuhu (Beirut; Dar al-Fikri, 1998), cet. II, hal. 90.

Abu Muhammad bin Abdurrahman bin Abi hatim al-Razi, Kitab al-Jarh wa al-Ta'dil (Heiderabad; Dairah Ma'arif, 1952), cet. I atau Jamaluddin Abu Hujjaj Yusuf al-Mizzi, Tahdzib al-Kamal fi Asma'I al-Rijal (Beirut; Maushu'ah al-Risalah, 1985).

Sofwere, Gawami Al-Kalim V4.5.


[1]Untuk lebih jelasnya mengenai biografi masing-masing perawi dapat dilihat pada kitab-katab rijalul hadits, misalnya Abu Muhammad bin Abdurrahman bin Abi hatim al-Razi, Kitab al-Jarh wa al-Ta'dil (Heiderabad; Dairah Ma'arif, 1952), cet. I atau Jamaluddin Abu Hujjaj Yusuf al-Mizzi, Tahdzib al-Kamal fi Asma'I al-Rijal (Beirut; Maushu'ah al-Risalah, 1985)
[2]Lihat Abdul mahdi bin Abdul Qadir bin al-Hadi, 'Ilmu al-Jarh wa al-Ta'dil Qawaiduhu wa Aimmatuhu (Beirut; Dar al-Fikri, 1998), cet. II, hal. 90.
[3]dengan dua catatan, pertama : keshohihan, karena ada jalan lainnya akan tetapi semuanya ma’lul (cacat) sebagaimana yang disebutkan oleh Ad Daroquthni, Abul Qosim bin Mandah dan yang lainnya. Kedua : redaksinya, karena ada hadits hadits lain yang shohih yang semakna dengannya mengenai niat (Fathul Bari 1/11).

Popular posts from this blog

ORGANISASI PENDIDIKAN : JENIS DAN STRATEGI PENGUATAN

DAULAH ABASYYIAH (AL MA"MUN & HARUN AL RASYID)