Abu Bakar Ash Shiddiq



Abu Bakar Ash Shiddiq


Abu Bakar Ash-Shidiq merupakan sahabat Nabi yang sangat sederhana. Jabatannya sebagai Khalifah (632-634 M) tidak menyebabkannya hidup bermewah-mewah. Ia tidak mau menyalahgunakan jabatannya sebagai penguasa untuk memperkaya dirinya sendiri ataupun keluarganya. Ia meninggal dalam kesederhanaan. Jasa-jasa Khalifah Abu Bakar Shiddiq, diantaranya:

1.      Kebijakan Strategis AbuBakar
Sebagai Khalifah pertama, Abu Bakar dihadapkan pada keadaan masyarakat sepeninggal Muhammad Saw. Muncul pembangkangan, orang yang tidak mau membayar zakat, bahkan muncul Nabi palsu. Untuk mengatasi hal ini, ia bermusyawarah dengan para sahabat untuk menentukan tindakan yang harus diambil dalam menghadapi kesulitan yang dihadapi.

a.      Mengirim Pasukan Usamah
Pada masa Rasul masih hidup, beliau telah memerintahkan Usamah untuk pergi berperang melawan Romawi. Tapi ditengah perjalanan pasukan ini ke Romawi, mereka mendengar kabar bahwa Rasul telah wafat. Akhirnya mereka mengurungkan niat untuk pergi berperang dan kembali ke Madinah.

Setelah Abu Bakar menjadi Khalifah beliau ingin meneruskan rencana Rasul untuk mengirim pasukanya ke Romawi. Tapi hal ini sempat ditolak oleh Umar dengan alasan kestabilan keamanan di Madinah. Akan tetapi Abu Bakar tetap tegas untuk mengirim pasukan ini ke Romawi.

Pasukan kaum Muslimin yang dipimpin oleh Usamah berhasil mencapai kemenangan gemilang. Jumlah pasukan yang terbunuh tak terkira banyaknya. Rampasan perang yang mereka sita juga tidak sedikit, disertai sejumlah orang yang ditawan.

b.      Memerangi Kaum Riddah, Nabi Palsu Dan Orang Yang Menolak Membayar Zakat
Pada masa awal kepemimpinanya Abu Bakar dihadapkan pada masalah Nabi Palsu, kemurtadan dan orang yang tidak mau membayar zakat. Masalah Nabi palsu merupakan masalah yang telah ada saat Rasul masih hidup, tapi tidak begitu melakukan perlawanan yang cukup berarti kepada Rasul. Setelah wafatnya Rasul mereka semakin menjadi-jadi dan mudah menyebarkan pengaruh kepada kaum muslimin yang belum mempunyai keimanan yang kokoh. Mereka adalah Aswad Ansi, Al Kadzab, dan Tlaihah dan Sajjah Ibnu Haris seorang wanita dari Arab Tengah.  

Golongan murtad muncul karena adanya kaum muslimin yang hanya masuk Islam tidak secara sungguh-sungguh, mereka hanya masuk Islam karena pada saat itu Islam yang berkuasa. Sehingga keimanan mereka mudah goyah dengan wafatnya rasul.

Munculnya orang yang tidak mau membayar zakat juga merupakan persoalan yang cukup rumit. Menurut mereka karena kaum Anshar dan Muhajirin telah berselisih paham mengenai kedudukan Khalifah sebagai pengganti Rasulullah saw. Beliau sendiri tidak pernah mewasiatkan kepada siapapun untuk menggantikan kedudukannya. Oleh karena itu, sangatlah layak bagi kita untuk menentukan jabatan Khalifah bagi golongan mereka masing-masing. Keharusan untuk tunduk kepada Abu Bakar atau orang lainnya tidak terdapat dalam ketentuan Agama dan kitabullah. Kita hanya diperintahkan untuk taat kepada orang-orang yang kita angkat untuk mengurusi kita.

Meski terjadi perbedaan pendapat dikalangan sahabat tentang tindakan yang akan dilakukan dalam menghadapi kesulitan yang memuncak pada masa ini, kelihatan kebesaran jiwa dan ketabahan hati Abu Bakar. Seraya bersumpah dengan tegas ia menyatakan akan memerangi semua golongan yang menyimpang dari kebenaran termasuk kaum Muslimin yang murtad. Dari sini dapat kita dapat mengetahui walaupun Abu Bakar mempunyai sikap yang lemah lembut akan tetapi ia mempunyai prinsip yang kuat dalam mempertahankan Islam dan dia tetap berpegang pada prinsipnya walaupun terjadi perdebatan di kalangan sahabat.

Abu Bakar menyusun strategi peperangan dengan cara menyusun membagi pasukan muslim menjadi sebelas divisi yang masing-masing divisi dipimpin oleh seorang komandan (panglima perang). Diperbolehkan bagi masing-masing pasukan untuk memilih dan menetukan anggotanya yang dinilai cukup kuat dan tangkas dalam mengemban tugas.

Dengan strategi perang tersebut akhirnya kaum yang ingin memisahkan diri dengan Islam dapat ditumpas. Dan persatuan Islam dapat dibangun kembali. Inilah pondasi pertama yang telah dibuat oleh Khalifah Abu Bakar untuk perkembangan Islam masa selanjutnya.

Pada masa ini belum banyak yang dapat dilakukan oleh Khalifah AbuBakar mengenai pengelolaan pemerintahan. Hal ini disebabkan oleh banyaknya permaslahan intern yang harus dihadapi. Bentuk pemerintahan pada masa Khalifah Abu Bakar masih meneruskan seperti apa yang dilakukan oleh Rasul yaitu kekuasaan bersifat sentral (eksekutif, legislatif dan yudikatif terpusat pada pemimpin tertinggi).

Popular posts from this blog

ORGANISASI PENDIDIKAN : JENIS DAN STRATEGI PENGUATAN

DAULAH ABASYYIAH (AL MA"MUN & HARUN AL RASYID)