Review Film Freedom Writers

Nama   : Della Nadya Ayu Aprilia K1A015040

Review Film “Freedom Writers”


Review Film Freedom Writers


Kerusuhan masal yang terjadi di Los Angles pada tahun 1992 dengan 3.500 penembakan bebas serta timbulnya lebih dari 120 pembunuhan dalam sebulan yang disebabkan oleh konflik rasial menjadi prolog dalam film ini. Perbedaan ras memyebabkan kelompok minoritas seperti Latin, Asia, atau Hitam beresiko menjadi sasaran penembakan ketika berada di luar rumah. Perkelahian karena wilayah hingga saling bunuh karena perbedaan ras menjadi hal yang lumrah dan merupakan kebanggaan tersendiri untuk menimbulkan rasa hormat pada suatu ras. Ras dibatasi menjadi Kamboja Kecil, Kulit Hitam, Kulit Putih, dan Selatan Perbatasan atau Tijuana Kecil. Pada awalnya, Woodrow Wilson High School merupakan sekolah yang terbilang sukses dengan murid-murid yang berprestasi. Adanya kewajiban distrik dari integrasi mengakibatkan Woodrow Wilson High School menjadi sekolah terbuka yang menampung anak-anak korban perkelahian antargeng rasial setelah terjadinya kerusuhan antarras di Amerika tepatnya di Los Angles.

Erin Gruwell, wanita cerdas dengan pendidikan tinggi merupakan guru  baru di Woodrow Wilson High School, Long Beach, California. Ia adalah guru Bahasa Inggris yang di tugaskan  mengajar pada kelas 203 dengan murid-murid berkemampuan rendah disekolah, dimana mereka semua terdiri atas beragam ras. Murid-murid yang akan diajar oleh Gruwell bukanlah murid biasa, mereka adalah anak-anak yang tumbuh dari lingkungan kekerasan bahkan tak sedikit dari muridnya yang pernah menjadi tahanan. Di hari pertamanya mengajar, perkelahian terjadi dan menyebabkan kerusuhan di kelasnya. Perang atargeng yang terjadi di kota tersebut ternyata juga terbawa hingga ke dalam kelas. Perkelahian ini disebabkan karena salah satu muridnya menggambar serta mengolok-olok murid lain yang merupakan seorang African yang memiliki mulut tebal yaitu Shraud. Gambar itu beredar di kelas dan akhirnya diketahui oleh Gruwell. Ia menjadi kesal, kemudian membandingkan gambar tersebut dengan gambar karikatur orang Yahudi dengan hidung besarnya. Ia bercerita bahwa gambar tersebut beredar pada saat Holocaust (NAZI). Gruwell akhirnya mengerti akan kondisi murid di kelasnya, sehingga ia mengubah cara belajar dengan mulai mendekati muridnya dan mengajarkan tentang toleransi.

Untuk mendukung rencananya dalam memberikan metode belajar yang tepat untuk muridnya, Gruwell menginginkan sekolah memfasilitasi seluruh muridnya agar dapat mengakses buku di perpustkaan. Namun usulan ini ditolak oleh Margareth, Kepala Bagian Woodrow Wilson High School. Pihak sekolah rasis serta melakukan diskriminasi, perbedaan fasilitas yang kentara antar ras kulit putih dan ras-ras lainnya. Hingga akhirnya Gruwell mengambil dua perkerjaan paruh waktu agar dapat memfasilitasi kebutuhan metode mengajarnya. Gruwell menemukan cara untuk menjangkau kehidupan murid-muridnya dengan memberikan sebuah jurnal harian dan meminta mereka untuk mengisi jurnal tersebut setiap hari. Jurnal itu dapat diisi mengenai semua kejadian yang mereka ingin tuliskan, baik tentang masa lalu, sekarang, ataupun masa depan. Mereka dibebaskan untuk menulis dalam jurnal tersebut, dapat menulis tentang kebencian ataupun kesukaan, bahkan diperbolehkan untuk menulis lagu, puisi, cerita atau apa saja yang penting mereka harus menulis setiap hari. Tulisan tersebut bukanlah bagian dari system penilaian karena menurut Erin Gruwell kebenaran yang mereka tulis itu tidak dapat dinilai dengan angka. Gruwell berjanji untuk tidak membaca jurnal tersebut jika tidak diizinkan, tapi ia akan memeriksa apakah mereka menulis. Jika murid-muridnya menginginkan tulisannya untuk dibaca oleh Erin Gruwell, mereka dapat meninggalkan buku hariannya di sebuah lemari kecil di belakang kelas. Lemari itu akan selalu dibuka pada saat pelajaran berlangsung dan setelah kelas selesai akan dikunci, Gruwell memastikan bahwa tidak akan ada yang bisa membaca tulisan mereka selain dirinya sendiri. Saat malam acara bersama wali, tidak ada satupun orangtua yang hadir, seketika Gruwell teringat buku harian muridnya. Ternyata selruh muridnya meninggalkan buku harian mereka untuk dapat dibaca Erin Gruwell. Ia mulai membacanya satu persatu. Tulisan muridnya itu membuat Gruwell paham akan keadaan murid di kelasnya, ternyata murid-muridnya setiap hari harus berlarian untuk beertahan hidup dan melawan maut yang senantiasa mengintai mereka. Sejak membaca tulisan semua muridnya, Erin Gruwell semakin bersemangat untuk mengubah kehidupan murid-muridnya, serta menghapus batas tak terlihat yang secara kultur memisahkan mereka dengan cara-cara yang mengagumkan.

Pihak sekolah juga mendiskriminasi fasilitas buku. Erin Gruwell yang pada saat itu ingin meminjam buku-buku di perpustakaan utuk murid-muridnya tidak mendapatkan izin dari pihak sekolah, dengan alasan yang tidak masuk akal. Mereka takut jika memberikan izin, murid-murid Erin Gruwell hanya akan merusak bukunya. Namun Gruwell tidak menyerah, ia membelikan buku baru tentang geng yang lekat dengan keseharian mereka. Gruwell menggunakan uang pribadinya yang ia dapatkan dari pekerjaan sampingan. Setiap muridnya mendapatkan buku “The Diary of Anne Frank”. Anne Frank adalah seorang gadis remaja yang merupakan korban Holocaust, Anne menuliskan setiap kejadian dalam hidupnya d sebuah diary. Anne Frank dan keluarganya sampai mengungsi ke Amsterdam, Belanda. Mereka menghindari kejaran dari Nazi Jerman. Peristiwa yang terjadi adalah pembantaian terhadap kelompok Yahudi di Eropa. Peristiwa ini merupakan penag dunia II oleh Nazi Jerman. Erin Gruwell memberikan buku-buku itu agar mereka dapat belajar bahwa ada banyak orang lain di belahan bumi ini mengalami hal yang sama, bahkan lebih kejam daripada yang mereka hadapi.




Selain memberika buku-buku bacaan yang mendidik, Erin Gruwell juga membawa murid-muridnya mengunjungi Museun Toleransi. Touring ini dibuat Gruwell sebagai system penghargaan terhadap muridnya. Di museum tersebut murid-muridnya belajar mengenai toleransi, hal ini berkaitan dengan kehidupan mereka yang beraneka ragam, mulai dari suku, ras dan agama. Kemudian agenda touring dilanjutkan dengan makan malam di hotel Gruwell berkerja sampingan, ia mengundang beberapa korban Holocaust yang sebenarnya beberapa diantaranya adalah Elisabeth Man, Gloria Ungar, Eddie Ilam, dan Renee Firestone. Metode pembelajaran yang di terapkan Erin Gruwell terhadap murid-muridnya di kelas 203 ternyata berhasil, hal ini memberikan dampak yang luar biasa, nilai yang meningkat serta tidak ada lagi perbedaan ras. Untuk merayakan tahun kedua semester awal Erin Gruwell mengadakan Toast for Change di kelasnya.
Setelah tugas mencatat “The Diary of Anne Frank” yang diberikan oleh Erin Gruwell. Ada salah satu murid yang sangat tertarik mengenai cerita Anne Frank. Hal ini memberikan ide pada Gruwell utnuk mengganti tugas yaitu dengan menulis surat untuk Miep Gies, ia adalah seorang wanita yang memberikan perlindungan kepada keluarga Anne Frank semasa perang dunia II dari kejaran Nazi Jerman. Ia masih hidup dan tinggal di Amsterdam Belanda. Gruwell menginginkan meridnya menuliskan surat yang menggambarakan perasaan tentang buku tersebut. Ternyata tugas ini mendapatatkan respon positif dari murid-muridnya, karna antusiasme yang tinggi murid Gruwell ingin mendatangkan Miep Gies untuk berbicara langsung. Untuk mendatangkan Miep Gies dari Belanda ke Amerika, murid-muridnya mengupulkan dana dengan membuat bazaar dan mengadakan kontes tari di sekolahnya. Akhirnya akibat usaha keras murid-muridnya, Miep Gies dapat datang ke Amerika. Miep Gies menceritakan kekejaman Nazi pada saat itu, murid-muridnya dapat berdialog dan sharing secara langsung dengan wanita itu. Semua perjuangan yang telah dilakukan oleh Erin Gruwell lakuan ternyata membekas pada hati murid-muridnya. Memasuki tahun ketiga, Erin Gruwell harus berpisah dengan murid-muridnya. Ia tdak dapat melanjutkan mengajar pada kelas tiga dan sekolah menengah atas karena peraturan sekolah tidak mengizinkan guru dengan jam terbang yang belum terlalu banyak untuk mengajar di tingakatan atas. Gruwell hanya diizinkan mengajar pada kelas satu dan dua. Namun karena perjuangannya yang gigih, Erin Gruwell dapat mengajar murid-muridnya sampai akhir.

Erin Gruwell mengadakan suatu proyek. Proyek ini melibatkan murid-muridnya untuk menulis isi dari diary mereka ke computer. Tulisan itu akan dijadikn sebuah buku walaupun Gruwell tidak menanjikan buku tersebut untuk diterbitkan, yang terpenting adalah buku itu dapat menjadi bukti adanya perjuangan anak-anak tersebut dalam memerangi kekerasan dan konflik rasial yang mereka alami. Murid-murid Erin menyebut diri mereka adalah Freedom Writer. Bahwa dengan enulis, mereka bisa merubah diri mereka sendiri, keluarga, dan lingkungan mereka, bahkan bisa merubah dunia. Bersama dengan Erin Gruwell mereka akhirnya membentuk sebuah yayasan yang beranama \Freedom Writers Foundation. Yayasan tersebut bergerak untuk memberikan metode pembelajaran yang lebih baik di sekolah berdasarkan toleransi antar ras, suku dan agama. Murid-murid Gruwell pada akhirnya banyak yang dapat melanjutkan sekolah hingga menengah atas bahkan ada beberapa muridnya yang melanjutkan pendidikan hingga perguruan tinggi.

Kesan dan pesan :
Metode yang di berikan selama perkuliahan sangat baik, dapat membuat mahasiswa/i untuk aktif berpendapat sehingga pembelajaran terjadi 2 arah dan membuat materi yang disampaikan menjadi tidak membosankan. Pesannya, materi perkuliahan dalam penyampaiannya di buat lebih sederhana lagi agar kami bisa lebih paham sekaligus contoh-contoh yang menggambarkan materi yang di ajarkan, biasanya jika disajikan dengan contoh kasus materi bisa mudah dimengerti J



Popular posts from this blog

ORGANISASI PENDIDIKAN : JENIS DAN STRATEGI PENGUATAN

DAULAH ABASYYIAH (AL MA"MUN & HARUN AL RASYID)