Selfie Dalam Pandangan Islam

selfi selfie islam
Selfie. Ya satu fenomena yang sedang booming dan kekinian di masa kini bukan hanya di kalangan remaja melainkan juga di kalangan anak-anak sampe nenek-nenek. Siapa sih jaman sekarang yang belum pernah berfoto selfie? Yang tidak punya foto selfie? Coba saja kalau tidak percaya cek handpone setiap remaja yang anda temui maka kebanyakan dari mereka mempunyai selfie yang tersimpan di ponselnya. Ibarat kata “kalo lo nggak selfie lo gak kekinian”. Sebenanrnya apasih yang dimaksud selfie itu sendiri? Kok bisa namanya selfie? Darimana kata selfie itu berasal? Jawabanya selfie merupakan salah satu teknik pengambilan foto dengan objek diri sendiri atau lebih sederhananya selfie adalah memotret diri sendiri atau narsisme yang cenderung diambil dari ponsel atau webcam kemudian mengunggahnya ke media sosial. Asal punya usul nama selfie berasal dari kata bahasa inggris “self portrait” yang memang berarti foto hasil memotret sendiri dan susai dengan fakta karena foto tersebut adalah foto diri sendiri yang diambil oleh seorang diri. Demam selfie juga menjangkit kalangan muslimah diberbagai belahan dunia. Tidak jarang mereka juga mengunggah hasil foto ke akun media sosial. Lalu yang mau saya bahas disini adalah bagaimana hubungan selfie dengan Islam. Bagaimana selfie bagi muslimah? Apakah di perbolehkan atau tidak? Apa hukumnya?
Berfoto, seperti yang sering saya, anda, kita dan mereka semua baik kalangan muslim ataupun muslimah lakukan adalah perkara muamalah yang hukum asalnya boleh. Kaidah fikih menyebutkan, al-Aslu fil mu'amalah al-ibahah hatta yadullad dalilu 'ala at-tahrim (asal hukum mu'amalah adalah boleh sampai ada dalil yang mengharamkannya). Sedangkan Menurut redaksi berita Islam masa kini yang berasal dari hadist serta banyak ulama yang berpendapat, foto merupakan salah satu gambar yang masuk dalam kategori gambar yang dilarang untuk dipajang atau diambil diantaranya gambar manusia, hewan dan tumbuhan. Pertanyaan yang muncul, kenapa sih kok bisa gitu? Menurut mereka foto sama saja seperti gambar yang dilukis atau digambar menyerupai makhluk bernyawa ciptaan Allah SWT. Jadi makasudnya kalau kita berfoto sama saja kita menggambar makhluk yang menyerupai ciptaan-Nya dan hal tersebut di khawatirkan karena di akhirat nanti apabila kita menggambar atau membuat sesuatu yang mirip dengan makhluk bernyawa maka kita disuruh untuk meniupkan roh kedalamnya, sedangkan kita bisa apa? kita tidak mampu meniupkan roh didalamnya. itu merupakan pendapat para ulama yang diperkuat dengan hadist berikut :
(Baginda) Muhammad SAW melarang gambar ada di dalam rumah dan beliau juga melarang membuat gambar." Hadits Riwayat Tirmizi Nomor 1749.
Dari Ibnu, dia berkata, “Rasulullah Saw bersabda, ‘Barangsiapa menggambar suatu gambar dari sesuatu yang bernyawa di dunia, maka dia akan diminta untuk meniupkan ruh kepada gambarnya itu kelak di hari akhir, sedangkan dia tidak kuasa untuk meniupkannya.’” [HR. Bukhari].
Larangan yang berlandaskan hadist diatas cukup kuat, lalu pertanyaanpun muncul apa saja kategori foto yang dilarang dalam Islam? Apakah semua foto yang dibadikan itu dilarang? Semua foto yang menghasilkan objek yang bernyawa itu dilarang termasuk manusia, hewan dan tumbuhan.
Alasan lain mengapa foto bahkan seflie dikategorikan hal yang dilarang adalah karena dikhawatirkan akan menimbulkan sifat ujub , riya bahkan takabur. Kok bisa sih? Kenapa bisa dikatakan begitu? Sebenarnya apa itu ujub? Riya? Takabur? Menurut suatu sumber ujub adalah mengagumi diri sendiri. Bila kita berfoto selfie lalu kita kagum dan puas dengan hasilnya maka kita akan memilih dan melilah pose pose terbaik dari foto tersebut dan mengaguminya. Hal tersebut dikhatirkan memunculkan rasa ujub didalam diri kita. Lalu apa hubunganya dengan riya? Dari pose pose yang terbaik yang telah dikagumi tersebut ada keinginan untuk mengunggah di media sosial dengan harapan mendapat like lah, atau comment lah atau view dan kita merasa senang bahwa foto kita diapresiasi lalu meningkatkan rasa didalam diri kita untuk berselfie dan mengunggahnya untuk menjadi terkenal maka kita masuk dalam perangkap riya. Kemudian dikatakan takabur karena takutnya apabila kita telah mengunggah foto foto terbaik kita lalu kita membanding bandingkan hasilnya dengan milik orang lain dan merasa lebih baik dari mereka , lebih hebat dari mereka , lebih cantik lebih ganteng dan lebih lebih yang lain maka kita masuk dalam perangkap terburuk yaitu sifat takabur atau sombong. 3 sifat tersebut sangat disayangkan karena bisa mematikan hati, membakar habis amal dan membuat layu sebelum berkembang.
Rasulullah Saw melarang keras seseorang ujub terhadap dirinya. Bahkan, Rasulullah menyebutnya sebagai dosa besar yang membinasakan pelakunya.
ثَلَاثٌ مُهْلِكَاتٌ : شُحٌّ مُطَاعٌ ، وَهَوًى مُتَّبَعٌ ، وَإِعْجَابُ الْمَرْءِ بِنَفْسِهِ
“Tiga dosa pembinasa: sifat pelit yang ditaati, hawa nafsu yang dituruti, dan ujub seseorang terhadap dirinya”(HR. Thabrani dari Anas bin Malik).
Sebenarnya berfoto selfie hanya untuk koleksi pribadi tidak apa-apa tidak diunggah di media sosial Karen atentu saja tidak akan menimbulkan sifat riya dan takabur namun dihawatirkan menumbuhkan sifat ujub yang akan berujung pada riya dan takabur yang dapat menyesatkan kita. Salah satu bukti foro selfie menimbulkan sifat ujub adalah munculnya penyakit depresi facebook (facebook depression) yaitu suatu penyakit yang muncul akibat merasa diabaikan setelah mengupdate status. Merasa di kacangin karena tidak ada yang mengelike , komentar , menview postinganya.
            Meski begitu tak kalah banyak ulama mengatakan bahwa selfie tidak dilarang membantah hadits yang mengatakan bahwa foto sama saja melukis atau meniru membuat ciptaan-Nya. Mengapa begitu? Apa alasanya? Alasan mereka adalah bahwa foto atau selfie sangat berbeda dengan menggambar. Gambar dan foto memang identic tapi tak sama. Salah satu teknik pengambilan foto tersebut berbeda jauh dengan teknik menggambar yaitu skestsa sedangkan pengambilan foto itu mencetak objek tidak dan ada unsur meniru sama sekali seperti hadist tersebut. Proses kertja foto itu seperti cermin yang mencetak bayangan kita.
            Foto-foto atau selfie tidak dilarang dalam agama asalkan foto tersebut tidak bertujuan untuk ujub , riya atau takabur , tidak merugikan diri sendiri atau orang lain , tidak bertujuan untuk nafsu belaka dan tidak bertujuan untuk mengadu domba dan menghancurkan hubungan. Jadi, kembali ke kita pada dasarnya foto tidak papa asalkan niat dari kitanya tidak untuk keburukan. Selain itu mengikuti perkembangan zaman saat ini foto sangat dibutuhkan untuk kehidupan sehari-hari misalnya disurat kabar untuk lebih menarik menggunakan foto , di identifikasi kasus-kasus polisi juga butuh foto untuk bukti-bukti. Contoh yang paling simple misalnya kita sebagai anak kos anak yang merantau jauh dari keluarga apabila kita rindu dengan kelurga untuk mengobatinya dengan mengirim foto kegiatan dirumah atau foto kita untuk orang yang dirumah. Intinya hokum foto menurut kacamata islam itu mubah. Halal haramnya sutu foto tergantung pada kita sebagai pelakunya. Sama seperti misalnya handphone apabila digunakan untuk komunikasi maka itu boleh , apabila digunakan untuk dakwah maka itu menjadi wajib namun apabila digunakan untuk kejahatan seperti penipuan maka hal tersebut menjadi haram. Sama halnya foto apabila digunakan untuk missal mengobati rindu kepada kelurga maka itu boleh namun apabila digunakan untuk ajang pamer bahwa kita telah melakukan suatu kebaikan atau bahkan untuk mencoreng nama baik orang lain maka itu dilarang. Nah hokum berfoto masuk dalam kategori seperti itu.
Firman Allah SWT, "Sesungguhnya orang-orang munafik itu menipu Allah, dan Allah akan membalas tipuan mereka. Dan, apabila mereka berdiri untuk shalat, mereka berdiri dengan malas. Mereka bermaksud riya di hadapan manusia. Dan tidaklah mereka menyebut Allah kecuali sedikit sekali." (QS an-Nisa' [4]: 142).
            Menegaskan kembali pada dasarnya persoalan riya dan ujub itu adalah permasalahan hati. Kembali lagi ke kita bahwa hal tersebut hanya kita dan Alloh. Tidak ada orang lain tahu apa niat sebenarnya dari ber-selfie selfie ria pada intinya apabila selfie atau foto tersebut tidak untuk keburuka maka diperbolehkan namun juga harus tetap memperhatikan adab-adab yang berlaku terutama untuk kaum muslimah apabila berfoto selfie tetap pada adabnya untuk menjaga aurat jangan sampai terlihat , jangan sampai meniru perilaku wanita wanita jahiliyah yang dapat mengundang kejahatan dan juga satu lagi perlu diingat jangan mengumbar sembarangan foto di media sosial takutnya dimanfaatkan oleh orang yang tidak bertanggung jawab , bisa juga menimbulkan rasa cemburu sesame jaum hawa. Mari kita sama sama saling mengingatkan dan meluruskan niat kita karena saya sendripun memang suka berselfie  jangan sampai niat kita dapat menimbulkan penyakit hati. 

by : Noviana Kun Khoiriyah 

Comments

Popular posts from this blog

ORGANISASI PENDIDIKAN : JENIS DAN STRATEGI PENGUATAN

DAULAH ABASYYIAH (AL MA"MUN & HARUN AL RASYID)